HUMANIA

Google dan Pendidikan Anak-anak

Anak-anak sekarang jika mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) kelihatannya santai-santai saja. Jika ada PR, entah itu matematika, agama, sastra, sejarah, dan lain-lain – mereka dengan mudah bilang: ah gampang nanti bisa dicari di Google. Soal apa pun, dalam pikiran anak-anak sekarang, jawabannya pasti ada di Google. Bahkan bila ada tugas bikin puisi, mereka pun dengan mudah menyontek puisi dari Google. Memang, hampir semua masalah ada di Google. Apalagi bila orang mempunyai banyak kata kunci untuk meneluri persoalan. Google pun menyediakannya. Maka tak heran bila Googling sekarang tidak bisa dipisahkan dari pelajar, bahkan mahasiswa, dosen, dan guru besar sekali pun ketika mereka mencari informasi atau pengetahuan yang lebih beragam dan luas. Dengan luasnya cakupan m... Selengkapnya


Google dan Pendidikan Anak-anak

Anak-anak sekarang jika mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) kelihatannya santai-santai saja. Jika ada PR, entah itu matematika, agama, sastra, sejarah, dan lain-lain – mereka dengan mudah bilang: ah gampang nanti bisa dicari di Google. Soal apa pun, dalam pikiran anak-anak sekarang, jawabannya pasti ada di Google. Bahkan bila ada tugas bikin puisi, mereka pun dengan mudah menyontek puisi dari Google. Memang, hampir semua masalah ada di Google. Apalagi bila orang mempunyai banyak kata kunci untuk meneluri persoalan. Google pun menyediakannya. Maka tak heran bila Googling sekarang tidak bisa dipisahkan dari pelajar, bahkan mahasiswa, dosen, dan guru besar sekali pun ketika mereka mencari informasi atau pengetahuan yang lebih beragam dan luas. Dengan luasnya cakupan m... Selengkapnya


Matematika Itu Menyenangkan!

Hampir setiap siswa, baik di SD maupun Ibtida’iyah (begitu juga di SMP dan Tsanawiyah), menganggap matematika sebagai pelajaran paling menakutkan. Matematikan merupakan pelajaran yang sulit dan melelahkan pikiran. Akibatnya, pelajaran matematika tidak disukai anak-anak. Kalau ini terjadi, wah ... bahaya. Sebab matematika adalah landasan utama dari ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Bahkan sekarang, matematika juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ilmu ekonomi, sosial, dan psikologi. Saat ini, orang tidak bisa terpisahkan dari smartphone atau gawai cerdas. Berbagai macam aplikasi yang memudahkan manusia berkomunikasi lewat smartphone, misalnya, semuanya dirancang melalui rumus-rumus matematika. Belakangan dunia seni dan msik pun tidak bisa lepas dari hitung-hitungan mate... Selengkapnya


Pendidikan Perdamaian!

Kamis kemarin (14/1/016) Jakarta mencengkam. Bom berdebum. Senjata menyalak. Kawasan jantung Jakarta – Sarinah dan Monas yang jaraknya sepelemparan batu dari istana – gempar. Tujuh orang tewas, lima di antaranya pelaku teror, 24 orang lainnya luka berat. Yang menaik, di tengah kegemparan teror itu, ada tukang ajeg sedang berusaha membantu seorang wanita yang terluka untuk lari dari lokasi kejadian. Foto tukang ojek yang muncul di medsos langsung mendpat sambutan netizen. Kantor pusat Gojek langsung merespon. Hari itu, penumpang gojek gratis. Begitu pula Grabbike. Tujuannya agar masyarakat – khususnya yang berada dekat lokasi ledakan bom – bisa pergi jauh menghindari “teror spot” tersebut. Di sisi lain, kaum netizen langsung mengajak berdoa untuk keselamatan warga dan perd... Selengkapnya


Mindset Korupsi dan Pemerataan Pendidikan

Sekali-kali, berjalan-jalanlah ke kampung-kampung dekat pelabuhan ikan Pelabuhan Ratu. Lalu, amati anak-anak usia sekolah SMP. Ternyata banyak sekali yang tidak sekolah. Mereka memilih bekerja. Ada yang di pelabuhan ikan, ke kota jadi pedagang asongan, atau ke Jakarta jadi tukang parkir dan penyemir sepatu. Mereka, ternyata bukan anak orang miskin. Orang tuanya secara ekonomi lumayan. Ini terlihat dari rumahnya yang relatif bagus. Bertembok, pakai keramik, dan ada tivi. Tapi kenapa anak-anaknya tidak disekolahkan ke SMP? Ternyata, orang tua mereka menganggap sekolah itu menghabiskan waktu dan uang. Mendingan kerja, anak-anak bisa mendapatkan uang. Pikiran itu pun direspons positif anak-anak. Sinergi pikiran orang tua dan anak itu menghasilkan kesimpulan: lebih baik tidak sekolah tapi bi... Selengkapnya


Bila Anak TK Diminta membuat Kalimat dengan Kata Bom

Seorang guru menyuruh anak-anak didiknya untuk membuat kalimat dengan kata bom. Hasilnya: “Budi melemparkan bom ke pasar,” tulis seorang anak. Tak mungkinlah jika anak membuat kalimat seperti ini: Budi memakan bom! Ini artinya, kata bom jika dibuat dalam rangkaian kalimat, niscaya berujung pada makna “kekerasan” . Tanpa disadari, kata bom yang bermakna kekerasan itu, kemudian jadi “makanan otak” anak-anak. Apa yang terjadi kelak bila sejak kecil otak anak-anak disuguhi “makanan” kekerasan? Gerakan Pemuda Anshar beberapa hari lalu menemukan buku pelajaran membaca berjudul “Anak Islam Suka Membaca” yang isinya mengenalkan narasi-narasi berbau kekerasan dan radikalisme di taman kanak-kanak (TK) Baiturahman, Cilodong, Depok. Dalam buku itu, anak-anak TK diperkenalkan den... Selengkapnya